Selasa, 21 Juni 2011

ASKEP INFEKSI SALURAN KEMIH

ASKEP INFEKSI SALURAN KEMIH

1. Pengertian Infeksi Saluran Kemih
Menurut J. Pudji Rahardjo dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (1998)
Infeksi saluran kemih adalah berkembang biaknya mikroorganisme didalam saluran kemih yang dalam keadaan normal tidak mengandung bakteri, virus dan mikroorganisme lain. Tanpa terbukti adanya mikroorganisme tidak mungkin diagnosis pasti ditegakkan, karena gejala dan tanda klinis bukan merupakan hal yang mutlak. ISK yang terjadi pada bagian bawah yakni uretritis dan sistisis sedangkan bagian atas yaitu pielonefritis dan uretritis.
2. Anatomi Dan Fisiologi Saluran Kencing
Menurut Ibrahim Supu ( 2001 ) sistem perkemihan terdiri dari :
a. Ginjal
Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti dua kacang yang terletak di :
Ø Posterior abdomen dan berada diluar perotonium.
Ø Berada disebelah kiri / kanan columna vertebralis.
Ø Ginjal kiri : T11 – L2, L3.
Ø Ginjal kanan : T12 – L3.
Ø Panjang : 11 – 13 cm (4-5 inchi).
Ø Tebal : 1,5 – 2,5 cm.
Ø Lebar : 5 – 7 cm.
Ø Berat : 120 –150 gr.
Mekanisme pembentukan urine :
Keseluruhan darah yang mengalir kedalam nefron pada kedua ginjal diperkirakan sampai 1200 ml/menit. Dari jumlahtotal ini kira-kira 650 ml adalah plasma dan 1/5 dari plasma tersaring melalui membran glomerolus kedalam kapsula.
Bowman’s membentuk 125 ml filtrat glomerolus permenit. Pada saat filtrat glomerolus mengalir melalui tubulus proximal, hampir 80 % air dan elektrolit, semua glukosa dan protein dan sebagian besar asam amino direabsorpsi. Dan natrium dan sebagian air direabsorpsi ditubulus distal. PH urin yang turun atau naik tergantung tergantung jumlah relatif ion-ion asam atau basa yang direabsorpsi oleh tubulus. Jumlah urine yang dikirim ke pelvis ginjal kira-kira 1/125 dari filtrat glomerolus atau sekitar 1ml/menit dalam bentuk urine à 60 ml/jam :
1440 ml/jam.
Funsi utama ginjal :
Ø Mempertahankan air dan osmolalitas normal yang terdapat dalam tubuh.
Ø Mempertahankan elektrolit utama dari cairan tubuh terutama ion Natrium, Kalium, Bikarbonat, Chlorida, dan hydrogen.
Ø Mengeluarkan kelebihan air dan elektrolit ( terutama hydrogen ).
Ø Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme tubuh.
b. Ureter
Ø Berada pada daerah kiri dan kanan yang menghubungkan pelvis renalis dengan kandung kemih.
Ø Panjang ureter ± 25 – 30 cm dan diameternya 0,5 cm.
Ø Dindingnya terdiri dari 3 lapisan :
1) Lapisan mukosa.
2) Lapisan otot polos.
3) Lapisan jaringan fibrosa.
Berfungsi untuk mengalirkan urine dari ginjal kedalam kandung kemih.
c. Vesika Urinaria
Ø Terletak dibelakang symphisis pubis didalam rongga panggul.
Ø Bagian-bagiannya :
· Vertex bagian yang meruncing kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbiliscale medius.
· Fundus merupakan bagian yang menghadap ke arah belakang dan bawah.
· Corpus berada diantara vertex dan fundus.
Ø Kapasitas ± 100 – 150 cc.
Dikatakan normal 200 – 400 ml.
Ø Mekanisme berkemih.
Urine yang terkumpul akan menekan sehingga akan merangsang saraf sensorik didalam dinding kandung kemih à rangsangan diteruskan ke medulla spinalis ke pusat pengontrol berkemih yang terdapat di korteks serebral. Bila waktu berkemih sudah siap, otak memberi impuls melalui medulla spinalis ke neuromotorik di daerah sacral kemudian terjadi kontraksi otot detrusor dan relaksasi spinter internal dan kemudian urine dilepaskan dari kandung kemih menuju uretra à ( dunia luar ).
d. Uretra
Ø Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih.
Ø Berfungsi menyalurkan air kemih keluar dan juga untuk menyalurkan segmen.
Ø Pada pria dibagi menjadi 3 bagian :
Panjang : 17 – 22,5 cm.
1) Pars prostatika.
2) Pars membranosa.
3) Pars cavernosa.
Ø Pada wanita :
· Terletak dibelakang symphisis pubis berjalan miring, sedikit ke arah atas.
· Panjangnya ± 3 – 4 cm.
· Berfungsi sebagai saluran ekstretori.
3. Etiologi
ISK disebabkan oleh bermacam-macam mikroorganisme patogen yang dapat digolongkan atas :
a. Golongan bakteri yaitu : E. Coli, Stafilococus saprofitikus, Streptococus faecalis, proteus mirabilis, klepsiella, pseudomonas,
A. aerogenes, Alkaligenes.
b. Golongan jamur yang jarang terjadi seperti Candida Albicans.
c. Golongan Virus terutama Adeno virus type II virus yang simptomatik ditemukan pada penyakit Mumps, rubella.
4. Faktor-Faktor Yang Berpengaruh
a. Obstruksi saluran kemih.
Setiap obstruksi saluran kemih memungkinkan kerentanan traktus urinarius terhadap infeksi.
Penyebab umum obstruksi adalah anomaly kogenital, striktur uretra, kontraktur leher kandung kemih, tumor kandung kemih, batu ureter atau batu ginjal, kompresi ureter dan abnormalitas neurologis.
b. Kontaminasi faekal pada meatus uretral.
Merupakan rute masuk bakteri yang umum kedalam traktus urinarius. Organisme faeces baik dari perineum ke uretra dan kandung kemih dan menempel pada permukaan mukosa. Hubungan seksual berperan dalam masuknya mikroorganisme dari perineum kedalam kandung kemih wanita.

c. Suatu faktor anti lekat yaitu Glukosaminoglikan (GAG).
Secara normal berlaku sebagai pelindung non spesifik melawan berbagai bakteri. Molekul GAG menarik molekul air, membentuk barier air yang berlaku sebagai lapisan pertahanan diantara kandung kemih dan urin. GAG dapat di rusak oleh agens tertentu ( sikramat, sakarin, asfarmat dan metabolit triptopan ).
d. Inflamasi, Abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.
Gangguan status metabolisme ( DM, kehamilan, GOUT ) dan immuno supresi meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme normal.
e. Refluks uretro vesikal.
Aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih. Batuk, bersin dan mengejan akan menimbulkan tekanan pada kandung kemih yang mendorong urine dari kandung kemih. Ketika tekanan kembali normal, urine akan mengalir balik ke dalam kandung kemih dengan membawa bakteri dari anterior uretra.
f. Refluks uretero vesikal.
Aliran bailk urine dari kandung kemih ke dalam kedua ureter. Normalnya sambungan uretero vesikal mencegah aliran balik urine ke dalam ureter. Ketika katup uretero vesikal rusak akibat kelainan kogenital atau abnormalitas ureteral bakteri dapat masuk dan menghancurkan ginjal.
g. Usia.
Pada usia lanjut sering mengalami ISK disebabkan oleh perubahan degeneratif imunologis, menurunnya sekresi dan hipertropi prostat, prolapsus uteri dan vagina, nutrisi yang buruk dan munculnya penyakit DM.
h. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena ISK karena jarak antara uretra dan anus dekat dan uretra yang pendek mempermudah masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih. Laki-laki lebih jarang disbanding dengan wanita karena uretra lebih panjang dan sekresi prostat yang bersifat bakterisid.
i. Pemasukan alat kedalan traktus urinarius.
Dengan menggunakan kateter dan pemeriksaan mikroskopik dapat menyebabkan masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih.
5. Patofisiologi
Sterilitas kandung kemih dipertahankan melalui beberapa mekanisme : barier fisik uretra, aliran urine, kompetensi sambungan ureterovesikal, beragai enzim anti bakteri dan antibodi, dan efek anti lekat yang diperantarai oleh sel-sel mukosa kandung kemih.
Normalnya kandung kemih mampu membersihkan dirinya dari sejumlah besar bakteri dalam dua hari sejak masuknya bakteri ini ke dalam kandung kemih. Agar infeksi dapat terjadi bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitalium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme pertahanan penjamu dan cetusan inflamasi. Infeksi traktus urinarius terutama berasal dari organisme pada faeces yang naik dari perineum ke uretra dan kandung kemih, serta menempel pada permukaan mukosa.
Ada tiga sumber utama masuknya bakteri yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih :
a. Sumber infeksi yang paling banyak adalah melalui meatus mengakibatkan infeksi ascendens.
b. Infeksi descendens berasal dari darah dan jaringan limfe yang dikaitkan dengan selimut antibody bakteri dalam urine. Selimut antibody bakteri dalam medulla adrenalis ketika bakteri di ekskresikan ke dalam urine.
c. Migrasi mikroorganisme patogen ke dalam kandung kemih melaluio pemasangan alat ke dalam traktus urinarius (menggunakan kateter atau pemeriksaan mikroskopik). Pada pasien yang menggunakan katerter mikroorganisme dapat menjangkau traktus urinarius melalui tiga lintasan utama :
1) Dari uretra ke dalam kandung kemih pada saat kateterisasi.
2) Melalui jalur dalam lapisan tipis cairan uretra yang berada diluar kateter ketika kateter dan membran mukosa bersentuhan.
3) Cara yang paling sering melalui migrasi ke dalam kandung kemih disepanjang lumen internal kateter setelah kateter terkontaminasi.

6. Gejala klinik
Gejala dan tanda ISK tidak selalu lengkap dan bahkan tidak selalu ada, yaitu pada keadaan yang disebut bakteriuria tanpa gejala (BTG).
Gejala yang lazim ditemukan adalah : disuria, polakisuria dan terdesak kencing ( urgency ), yang semuanya sering terdapat bersamaan. Rasa nyeri biasa didapatkan di daerah supra pubik atau pelvis berupa rasa nyeri atau seperti terbakar di uretra atau muara uretra luar sewaktu kencing atau dapat juga di luar waktu kencing. Polakisuria terjadi akibat kandung kemih tidak dapat menampung kencing lebih dari 500 ml akibat ragsangan mukosa yang meradang sehingga sering kencing. Rasa terdesak kencing dapat sampai menyebabkan seseorang penderita ISK ngompol, tetapi gejala ini juga di dapatkan pada penderita batu atau benda asing di dalam kandung kemih.
Gejala lain yang juga di dapatkan pada ISK adalah stranguria yaitu kencing yang susah dan disertai kejang otot pinggang yang sering pada sistitis akut; tenesmus yaitu rasa nyeri dengan keiginan mengosongkan kandung kencing meskipun telah kosong; nokturia yaitu kecendrungan buang air kecil lebih sering pada waktu malam hari akibat kapasitas kandung kencing yang menurun atau rangsangan mukosa yang meradang dengan volume urine kurang.
Gejala yang kurang sering di dapatkan pada ISK antara lain enuresis noktural sekunder yaitu ngompol pada dewasa, prostatismus yaitu adanya kesulitan memulai kencing, kurang deras arusnya, adanya berhenti di tengah kencing tetapi hal ini tersering di sebabkan oleh hipertropi prostat.
Nyeri uretra atau mulut uretra luar dan kandung kemih yang dirasakan di daerah supra pubik juga dapat timbul akibat ISK. Kolik ureter atau ginjal yang gejalanya khas dan nyeri prostat dapat juga menyertai gejala ISK.
Tanda dan gejala ISK bagian bawah (sistitis) mencakup nyeri yang sering dan rasa panas ketika berkemih, kadang-kadang disertai spasme pada area kandung kemih dan supra pubik. Hematuria dan nyeri punggung juga dapat terjadi. Tanda dan gejala ISK bagian atas (pielonefritis) mencakup demam, menggigil, nyeri panggul dan nyeri ketika berkemih. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya nyeri dan nyeri tekan di area sudut kostovertebral (CVA).
7. Jenis-Jenis Infeksi Saluran Kencing
a. Pielonefritis
Pielonefritis adalah infeksi baktei pada jaringan ginjal yang dimulai dari saluran kemih bagian bawah terus naik ke ginjal. Infeksi ini dapat mengenai baik parenkim maupun pelvis ginjal.
Gangguan ini dapat disebabkan oleh bakteri E. Coli,karena resisten terhadap obat antibiotik, atau obstruksi ureter yang mengakibatkan hidronefrosis.
Patofisiologi. Gangguan akut terjadi ila infeksi akteri naik dari saluran kemih bagian bawah ke arah ginjal, hal ini akan mempengaruhi fungsi ginjal. Sedangkan gangguan kronik terjadi bila infeksi dapat terjadi karena adanya bakteri tetapi dapat juga karena faktor lain, seperti obstruksi saluran kemih. Pielonefritis kronik dapat merusak jaringan ginjal secara permanen dan dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal kronik.
Pielonefritis akut sering juga ditemukan pada perempuan hamil biasanya diawali dengan hidroureter dan hidronefritis akibat obstruksi ureter karena uterus yang membesar. Tanda dan gejala pielonefritis akut adalah rasa nyeri dan nyeri tekan pada daerah ginjal, panas tinggi dan terjadi respon sistemik yang umum, sering miksi dan terasa nyeri, dan dalam urine ditemukan adanya leukosit dan bakteri. Penatalaksanaan gangguan ini dengan memberi pasien banyak minum dan terapi antibiotika.
Pielonefritis kronik terjadi akibat infeksi yang berulang-ulang sehingga kedua ginjal perlahan-lahan menjadi rusak. Tanda dan gejala gangguan ini ditunjukka dengan adanya serangan pielonefritis akut yang berulung-ulang dan kesehatan pasien semakin menurun pada akhirnya pasien mengalami gagal ginjal.
Pemeriksaan diagnostik untuk infeksi saluran kemih adalah dengan IVP, sistoskopi, kultur urine, atau biopsy ginjal.
Prognosis baik bila dilakukan pengobatan tepat, tetapi bila infeksi berlangsung terus dapat terjadi atrofi pielonefritis. Komplikasi penyakit ini meliputi hipertensi, pembentukan batu dan kegagalan ginjal. Sehingga perlu dilakukan pencegahan, dengan deteksi dini dan perawatan serta pengobatan yang adekuat terhadap infeksi saluran kemih bagian bawah (ureteritis, sistitis, uretritis).
b. Ureteritis
Ureteritis adalah peradangan pada ureter. Gangguan ini terjadi karena adanya infeksi baik pada ginjal maupun kandung kemih.
Patofisiologi. Infeksi di ginjal (pielonefritis) menjadi ureteritis selanjutnya menjadi sistitis (akibat infeksi desendens) atau sebaliknya. Aliran urine dari ginjal ke buli-buli dapat terganggu karena timbulnya fibrosis pada dinding ureter, menyebabkan striktur dan hidronefrosis, selanjutnya ginjal menjadi rusak, juga mengganggu peristaltik ureter.
c. Sistitis
Sistitis adalah peradangan pada vesika urinaria dan sering ditemui. Infeksi ini terjadi karena E. Coli (banyak ditemukan pada perempuan), infeksi ginjal, dan hipertropi prostat karena adanya urine sisa.
Sistitis primer adalah radang buli-buli yang erjadi karena adanya penyakit atau gangguan antara lain batu buli-buli, divertikal buli-buli, hipertropi prostat, atau striktur uretra. Sistitis sekunder adalah gejala sistitis timbul sebagai akibat dari penyakit pada sistem lain.
Sistitis akut menunjukkan tanda dan gejala peningkatan frekuensi miksi, baik diurnal maupun noktural. Disuri karena epitelium yang meradang tertekan, rasa nyeri pada daerah suprapubis atau perineal.Pemeriksaan diagnostik dilakukan dengan spesimen (bahan) urine porsi tengah (midstream) diperiksa dan dibenihkan. Infeksi pada buli-buli mempunyai kemungkinan untuk dapat sembuh dengan sendirinya bila tidak terjadi komplikasi. Tindakan pengobatanh dilakukan dengan pemberian antibiotika, antiepamodik, tranquilizer, robordatia, dan banyak minum untuk melarutkan bakteri.
Sistitis kronik disebabkan oleh infeksi kronik dari traktus urinarius bagian atas, adanya sisa urine, stenosis dari traktus urinarius bagian bawah, pengobatan sistitis akut yang tidak sempurna, adanya faktor predisposisi. Tanda dan gejala sama dengan sistitis akut tetapi berlangsung lama dan sering tidak begitu menonjol. Pemeriksaan diagnostik pada pasien perlu dilakukan IVP dan sistoskopi. Tindakan penanggulangan dengan banyak minum untuk melarutkan bakteri, pemberian antibiotika, irigasi kandung kemih dengan larutan antiseptik ringan. Pencegahan sistitis khususnya untuk perempuan, dengan menggunakan celana dalam yang selalu berada dalam keadaan kering, bilas alat genitalia dari arah depan keelakang.
d. Uretritis
Uretritis adalah peradangan pada uretra. Infeksi ini disebabkan oleh kuman gonorroe atau kuman lain, kadang-kadang uretritis terjadi tanpa adanya bakteri.
Uretritis akut biasanya terjadi karena naiknya infeksi atau sebaliknya, oleh karena prostat mengalami infeksi. Keadaan ini lebih sering diderita oleh kaum laki-laki. Tanda dan gejala uretritis meliputi mukosa merah, edema, terdapat cairan eksudat yang purulen, ada ulserasi pada uretra, ada rasa gatal yang menggelitik, gejala khas pada uretritis GO, yaitu “ good morning sign “. Pada laki-laki, pembuluh darah kapiler melebar, kelenjar uretra tersumbat oleh kelompok nanah. Pada perempuan, jarang diemukan uretritis akut, kecuali bila pasien menderita GO.
Pemeriksaan diagnostik untuk uretritis akut dilakukan pemeriksaan terhadap secret uretra untuk mengetahui kuman penyebab. Tindakan pengobatan dengan memberi antibiotika. Bila terjadi striktur dilakukan dilatasi uretra dengan menggunakan boligit. Bila komplikasi berikan antibiotika.
Uretritis kronik. Infeksi ini disebabkan oleh pengobatan yang tidak sempurna pada masa akut, prostatitis kronik atau striktura uretra. Tanda dan gejala infeksi ini berupa mukosa terlihat granuler dan merah, getah uretra positif terlihat pada pagi hari sebelum miksi pertama. Bila tidak diobati dengan baik, infeksi dapat menjalar ke kandung kemih, ureter, ginjal. Tindakan pengobatan dilakukan dengan pemberian kemoterapi dan antibiotika atau banyak minum untuk melarutkan bakteri (± 3000 cc/hari). Komplikasi gangguan ini berupa radang yang dapat menjalar ke prostat.



8. Pemeriksaan Penunjang
a. Darah
Leukositosis, diff. Count terlihat “ shift to the left “, LED meningkat, kadang-kadang terdapat butir-butir toxin.
b. Urine
- Piuria merupakan gejala penting, yaitu adanya leukosit dalam urine > 10/LPB pada pemeriksaan mikroskopik urine yang telah disentrifus. Hitung jumlah leukosit yang dieksresi pada urine porsi tengah sebesar 2000/ml atau 200.000/ jam juga dianggap positif, meskipun harus dihindarkan pencemaran leukosit dari vagina dan sekitarnya pada wanita. Bila yang diperiksa adalah urine hasil aspirasi kandung kencing, nilai 800/ml sudah dianggap tanda infeksi.
- Hematuria dapat juga terjadi pada ISK tetapi bukan jenis glomerular dan dianggap positif bila jumlahnya lebih dari 5/LPB pada pemeriksaan mikroskopik, dan bila didapatkan jumlah lebih dari 8000/ml urine.
- Proteinuria ringan dapat ditemukan pada pielonefritis akut dan lebih sering lagi pada pielonefritis kronik.
- Bakteriuria yang merupakan dasar diagnosis ISK harus dapat dibuktikan adanya dengan biakan urine, dan harus dapat disingkirkan adanya kontaminasi. Sejak tahun 1960, Kass mengemukakan cara hitung kuman hasil biakan dan menyatakan angka 100.000 koloni/ml urine sebagai tanda positif.
- Kultur urine dapat dilakukan untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik.
- Test imunologik yaitu adanya bakteri berselubung antibody (BBA) dalam urine.
c. Radiologi
- Harus dilakukan secara selektif untuk menentukan kelainan morfologik baik akibat infeksi ataupun kelainan kongenital.
- Dengan USG dapat dilihat gambaran besar ginjal, permukaan ginjal, adanya bendungan, adanya kelainan bentuk, massa, kista, batu dan sebagainya.
- IVP memerlukan suntikan kontras yang dapat memberikan gambaran fungsi ekskresi, keadaan ureter, dan distorsi keadaan sistem pelviokalies.
- Sistoskop khususnya pada ISK berulang perlu dilakukan untuk mengetahui kepastian sebab ISK (TBC) atau mencari faktor predisposisi seperti batu, tumor, hipertropi prostat dan divertikel.





9. Penatalaksanaan
Pengobatan ISK bertujuan untuk membebaskan saluran kemih dari bakteri dan mencegah atau mengendalikan infeksi berulang, sehingga morbiditasnya dihindarkan atau dikurangi.
Dengan demikian tujuan dapat berupa :
a. Mencegah atau menghilangkan gejala, bakterimia dan kematian akibat ISK.
b. Mencegah dan mengurangi progresi ke arah gagal ginjal terminal akibat ISK sendiri atau komplikasi manipulasi saluran kemih.
c. Mencegah timbulnya ISK nyata (bergejala) pada semester akhir kehamilan.
Ada beberapa cara metode pengobatan ISK yang lazim dipakai yang disesuaikan dengan keadaan atau jenis ISK ini, yaitu :
1) Pengobatan dosis tunggal, obat diberikan satu kali.
2) Pengobatan jangka pendek, obat diberikan dalam waktu 1 – 2 minggu.
3) Pengobatan jangka panjang, obat diberikan dalam waktu 3 – 4 minggu.
4) Pengobatan profilaktik, yaitu dengan dosis rendah satu kali sehari sebelum tidur dalam waktu 3 – 6 bulan atau lebih.
Dalam pendekatan klinis pengobatan ISK ini pemilihan antibiotik penting, untuk mendapatkan hasil yang optimal.
Antibiotik yang sering dipakai untuk hal ini adalah : golongan sulfonamid, nitrofurantoin, kuinolon, ampisilin dan metenamin.
Hal penting lain yang harus dikerjakan pada terapi ISK ini adalah bila mungkin mengoreksi kelainan yang didapatkan yang kemungkinan sekali sebagai penyebab relaps, yaitu dengan dilatasi ureter bila ada penyempitan, ureterostomi kalau perlu, meninggikan klirens dengan minum yang cukup kurang lebih 2 ltr/hari.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Pengakajian

Menurut Brunner & Suddarth ( 2002) yang perlu di kaji ; riwayat tanda dan gejala urinarius didapatkan dari pasien yang diduga mengalami infeksi traktus urinarius. Adanya nyeri, sering berkemih, urgency dan hesitancy serta perubahan dalam urine dikaji didokumentasikan, dan dilaporkan. Pola berkemih pasien dikaji untuk mendeteksi faktor predisposisi terjadinya infeksi traktus urinarius. Pengosongan kandung kemih yang tidak teratur, hubungan antara gejala infeksi traktus urinarius dengan hubungan seksual, praktek kontraseptik, dan hygiene personal dikaji. Pengetahuan pasien tentang resep medikasi antimikrobial dan tindakan pencegahan juga dikaji. Selain itu urine pasien dikaji dalam hal volume, warna, konsentrasi, keabu-abuan dan bau yang semuanya itu akan berubah dengan adanya bakteri dalam traktus urinarius.




D Diagnosa keperawatan
Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosa keperawatan dapat mencakup :
a. Nyeri dan ketidaknyamanan berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih, dan stuktur traktus urinarius lain.
b. Perubahan pola eleminasi berhubungan dengan sering berkemih, urgency dan hesitancy.
c. Kurang pengetahuan tentang faktor predisposisi infeksi dan kekambuhan, deteksi dan pencegahan kekambuhan, dan terapi farmakologi.
Masalah kolaboratif/
Komplikasi potensial
Berdasarkan pada data pengkajian, komplikasi potensial mencakup :
q Gagal ginjal berkaitan dengan kerusakan ginjal yang khas.
q Sepsis.

Perencanaan dan implementasi

Tujuan. Tujuan utama dapat mencakup pengurangan nyeri dan ketidaknyamanan; pengurangan sering berkemih, urgency dan hesitancy; peningkatan pengetahuan tentang tindakan pencegahan dan modalitas penanganan; tidak adanya komplikasi potensial.
Intervensi keperawatan
Mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan. Nyeri dan ketidaknyamanan yang berkaitan dengan infeksi traktus urinarius dapat dikurangi secara cepat ketika terapi antimikrobial dimulai. Agen anti spasmodic membantu dalam mengurangi iritabilitas kandung kemih dan nyeri. Aspirin, pemanasan perineum dan hasil mandi rendam panas membantu mengurangi ketidaknyamanan dan spasme.
Mengurangi frekuensi (sering berkemih), Urgency, dan Hesitancy.Pasien didorong untuk minum dengan bebas sejumlah cairan (air pilihan terbaik) untuk mendukung aliran darah renal dan untuk membilas bakteri dari traktus urinarius. Cairan yang dapat mengiritasi kandung kemih (mis : kopi, teh, cola, alkohol) dihindari. Sering berkemih (setiap 2 – 3 jam ) dianjurkan untuk mengosongkan kandung kemih, karena hal ini secara menurunkan jumlah bakteri dalam urine, mengurangi stasis urine dan mencegah kekambuhan infeksi.
Pendidikan pasien.Wanita yang mengalamikekambuhan infeksi traktus urinarius harus menerima rincian intruksi pada poin-poin berikut :
a. Mengurangi konsentrasi patogen pada orifisium vagina melalui tindakan hygiene.
1) Sering mandi pancuran dari pada mandi rendam, karena bakteri dalam air bak dapat masuk ke uretra.
2) Bersihkan sekeliling perineum dan meatus uretra setiap selesai defikasi (dengan gerakan dari depan ke belakang).
b. Minum dengan bebas sejumlah cairan dalam sehari untuk membilas keluar bakteri, hindari kopi, teh, cola dan alkohol.
c. Berkemih setiap 2 – 3 jam dalam sehari dan kosongkan kandung kemih dengan sempurna. Hal ini mencegah distensi kadung kemih yang berlebihan dan gangguan terhadap suplai darah ke dinding kandung kemih yang merupakan predisposisi ISK.
d. Jika hubungan seksual merupakan kejadian yang mengawali berkembangnya bakteriuria :
1) Segera berkemih setelah melakukan hubungan seksual.
2) Minum agens antimicrobial oral dosis tunggal setelah hubungan seksual.
e. Jika bakteri tetap muncul dalm urine, terapi antimikrobial jangka panjang diperlukan untuk mencegah kolonisasi area periuretral dan kekambuhan infeksi. Medikasi harus diminun setelah pengosongan kandung kemih segera sebelum pergi tidur untuk memastikan keadekuatan konsentrasi medikasi selama periode malam hari.
f. Jika diresepkan, pantau dan lakukan tes urine dip-slide (Microstix) terhadap adanya bakteri seperti berikut :
1) Cuci sekeliling meutus uretra beberapa kali, menggunakan waslap yang berbeda.
2) Kumpulkan spesimen urine aliran tengah.
3) Angkat slide dari kontainer, celupkan ke dalam sample urine, dan kembalikan lagi dalam kontainer.
4) Simpan slide pada suhu ruang sesuai dengan petunjuk produk.
5) Baca hasilnya dengan membandingkan slide dengan grafik densitas koloni yang menyertai produk tersebut.
6) Awali terapi sesuai resep dan selesaikan medikasi
7) Beritahu tenaga kesehatan jika terjadi demam atau jika tanda-tanda menetap.
g. Konsul ke tenaga kesehatan secara teratur untuk tindak lanjut, kekambuhan gejala, atau infeksi nonresponsif terhadap penanganan.
Pemantauan dan penatalaksanaan komplikasi. Pengenalan ISK secara dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah kekambuhan infeksi dan kemungkinan komplikasi seperti gagal ginjal dan sepsis. Tujuan penanganan adalah untuk mencegah infeksi agar tidak berkembang dan menyebabkan kerusakan renal permanen pada gagal ginjal. Terapi antimikrobial yang tepat, minum cairan dalam jumlah bebas, sering berkemih dan tindakan hygiene biasanya dianjurkan dalam rangka penatalaksanaan ISK. Pasien diinstruksikan untuk memberiyahukan dokter jika terjadi kelemahan, mual, muntah, atau pruritus. Pemantauan fungsi renal secara berkala (klirens kreatinin, BUN, kadar kreatinin serum) dapat diindikasikan pada pasien yang mengalami ISK berulang. Jika kerusakan renal yang luas terjadi, dialysis mungkin diperlukan.
Pasien ISK, terutama yang mengalami infeksi akibat kateterisasi, beresiko tinggi mengalami sepsis oleh bakteri gram-negatif. Kateter indwelling harus dihindari dan jika perlu diangkat sedini mungkin. Namun demikian jika kateter indwelling diperlukan, intervensi keperawatan yang spesifik harus dilakukan untuk mencegah infeksi. Hal ini mencakup tehnik aseptic yang ketat selama melakukan tindakan insersi menggunakan kateter berukuran kecil jika mungkin; memfiksasi kateter dengan perekat untuk mencegah pergerakan; melakukan inspeksi dengan sering terhadap warna, bau dan konsistensi; dengan cermat lakukan perawatan perineal dengan menggunakan sabun dan air setiap hari; dan pertahankan sistem tertutup ketika mengambil contoh spesimen.
Kaji dengan cermat tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran yang menunjukkan adanya sepsis. Kultur darah positif dan peningkatan hitung sel darah putih dilaporkan pada dokter. Terapi antimikrobial yang tepat dan pemberian cairan dalam jumlah besar diresepkan (terapi antimikrobial dan cairan secara intravena mungkin diperlukan). Pencegahan sepsis merupakan kunci yang signifikan terhadap laju mortalitas pada sepsis gram-negatif, terutama pada pasien lansia.
4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan
a. Memperlihatkan berkurangnya rasa nyeri dan ketidaknyamanan.
1) Melaporkan berkurangnya nyeri, urgency, disuria, atau hesitancy pada saat berkemih.
2) Minum analgetik dan agens antimikrobial sesuai resep.
3) Minum 8 – 10 gelas air setiap hari.
4) Berkemih setia 2 – 3 jam.
5) Urine yang keluar jernih dan tidak berbau.
b. Pengetahuan mengenai tindakan pencegahan dan modalitas penanganan yang diresepkan meningkat.
c. Bebas komplikasi.
1) Melaporkan tidak adanya gejala infeksi atau gagal ginjal (mual,muntah,kelemahan,pruritus).
2) Kadar BUN dan kreatinin serum normal, kultur darah dan urine negatif.
3) Memperlihatkan tanda-tanda vital dan suhu yang normal, tidak ada tanda sepsis.
4) Mempertahankan haluaran urine yang adekuat (> 30 ml/jam).

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth ( 2002 ), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol.2, Penerbit Buku Kedokteran E G C, Jakarta.
Corwin J. Elisabeth ( 2001 ), Buku Saku Patofisiologi Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Engran Barbara ( 1999 ), Rencana Asuhan keperawatan Medikal Bedah, Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta
Harnowo Supto & Susanto H. Fitri ( 2002 ), Keperawatan Medikal Bedah Untuk Akademi Keperawatan ( MA 320 ) Wijaya Medika, Jakarta
Mansjoer Arif, dkk ( 2001 ), Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3 Jilid 2 Media Aesculapius, FKUI Jakarta.
Soeparman, dkk ( 1998 ), Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II. Balai penerbit FKUI, Jakarta.
Supu Ibrahim ( 2001 ), Fisiologi Ginjal, Edisi 5 Buku 2 Makassar.
Schwartz dkk ( 2000 ), Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, Edisi 6 Penerbit Buku Kedokteran EGC Jakarta

Reeves J. Charlene dkk ( 2001 ), Keperawatan Medikal Bedah, Buku Satu, Penerbit Salemba Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar